Beberapa waktu lalu sebelum saya pindah ke Batam, seorang rekan kerja di kantor lama saya bercerita tentang masa-masanya
sebelum bekerja di kantornya yang sekarang, dimulai dari pengalamannya bekerja di media cetak,
radio dan kini berhasil menembus dunai televisi dengan bekal autodidak.
Padahal dirinya mengaku hanya lulusan SMA, dirinya pun tidak menyesal bekerja di Industri Media.
Namun ada sebuah ceritanya yang sangat menyentil hati saya yakni mengenai hakiki pekerjaan sebagai jurnalis/ reporter / wartawan.
Apa hanya sebuah pekerjaan meliput dan menuliskan berita, padaha saat kuliah dulu ditekankan bahwa seorang jurnalis merupakan mata dan mulut masyarakat, sehingga seorang jurnalis harus memiliki idealisme A,B,C, dan D. Dan sewaktu saya magang di Metro TV seorang Andy F. Noya (Mantan Pemred Metro TV) mengatakan langsung kepada saya jangan sekali-kali meneriman uang disaat ikut liputan karena sama saja kita menjual diri dan sekali kita menerima uang maka kita idealisme kita telah terjual selamanya.
Zaman kini bergeser, yang dapat dijadikan berita kini tidak hanya berita-berita politik, ekonomi, Olahraga, kriminal dll atau berita peristiwa yang biasa kita lihat di headline TV maupun koran. Masyakarat menuntu berita juga mampu menghibur, makanya kini hadir Infotaiment dan sejumlah berita feature dalam bentuk inovatif.
Dari sejumlah perubahan akibat tuntutan zaman itu juga, kini peran jurnalis lebih banyak hanya sekedar menajdi tukang liput peritiwa dipermukaan namun tidak memiliki sejumlah agenda liputan pribadi untuk melakukan liputan secara mendalam dan investigatif. Dan kebanyakan isu-isu yang berkembang merupakan persepsi pribadi segelintir wartawan tanpa melalui peliputan mendalam, dah mungkin isu itu juga didapatkan dari sebagian wartawan lain.
Dan bahkan kini telah dikenal dengan istilah citizen journalism, masyakat umum yang tidak bekerja sebagai wartawan namun melaporkan hasil liputan amatirnya, Asalkan informasi tersebut bisa dipertanggung jawabkan. sehingga saat ini tantangan menajdi seorang wartawan semakin berat tapi tidak untuk wartawan infotaiment yang repot-repot mesti ngelaporin seorang cewek yang cuman nulis sesuati di Twitter (ini negara demokrasi Bung).
Asal kita tahu bersama hampir kebanyakan Jurnalis di Amerka di tahun 60-80an berlomba-lomba menjadi jurnalis hanya untuk mendapatkan inspirasi untuk menulis Novel yang kebanyakan bercerita mengenai kriminalitas, konspirasi, skandal pemerintahan, cerita para agen rahasia, dan petualangan.
Kembali dengan cerita rekan kerja saya, kemudia dia menawarkan sebuah ide yakni melakukan peliputan sebagai Jurnalis Jalanan, menuliskan kisah-kisah perjalanan dan mengirimkan ke Media atau sekedar menguplodanya di blog. Karena menurutnnya jurnalis pada dasarnya adalah hasrat menuliskan segela sesuatunya untuk menginformasikan kepada orang lain, sehingga tidak harus menjadi seorang jurnalis yang bekerja di media untuk menuturkan apa yang kita lihat, dengarkan, dan rasakan dengan mata kepala kita dan berupaya mengisnpirasi orang lain, karena kini banyak medianya dengan catatan kita bukan jurnalis namun orang yang memiliki jiwa jurnalis.
Satu catatan untuk kita semua, mencintai suatu pekerjaan bagaikan menintai orang yang kita sayangi, sehingga disaat kita telah memutuskan pekerjaan tersebut maka jadikan diri kita sebagai profersional yang tidak sekedar mengejar uang.
Senin, 28 Desember 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar