Sepintas kenangan itu membuat aku merenung kembali bahwa hidup itu tidak selamaya indah. Karena Aku yakin seiap langkah kaki kita adalah sebuah ujian oleh Tuhan. Ujian terberat dalam setiap kehidupan manusia yakni memilih jalan hidup kita. Karena ada ahanya ada pilihan yakni bahagia-menderita, Benar-salah, atau Bangkit-terpuruk. Dan jalan yang saat ini Aku tempuh adalah Bangkit untuk meraih Kebahagian meski harus melewati jalan terjal, karena aku yakin setiap takdir manusia untuk hidup adalah perjalanan mencari bekal untuk menemui kematian.
Jam dinding di kamarku baru menunjukan pukul 06.15, biasanya Aku bersiap untuk bergegas pergi ke kampus, namun karena aku saat ini hanya mengerjakan tugas akhir dan juga bekerja sebagai Assisten Dosen matakuliah Fotografi di Kampus almamaterku, sehingga Aku memiliki banyak waktu luang. Pagi ini Aku hanya tertarik untuk bermain internet dan seperti orang kebanyakan kujelajahi dunia maya dengan membuka email dan Facebook.
kulihat di "Home", Renata menuliskan "Rindu dengan masa SD, Reunian Yuk" di statusnya.
Hmmm...reunian. “Apakah mereka masih ingat dengan aku,” tapi ide Renata sebenarnya baik sih, hanya bagi ku masa-masa Sekolah Dasar yang seharusnya menjadi masa-masa yang indah namun malah menajdi masa-masa paling hitam selama aku bernafas 22 tahun ini. Aku berharap bisa kembali ke masa lalu dan bisa memperbaiki semua yang salah di masa lalu.
Waktu berputar dengan cepat namun hingga tidak terasa waktu enam tahun itu begitu cepat, namun kenangan akan tawa, tangis dan harap masih melekat kuat di dalam hati dan pikiran ku seakan-akan itu menjadi bayang-bayang kehidupanku di masa kini. Kita memang tidak bisa mengulang kembali apa yang telah terjadi dan hidup menatap masa depan. Namun aku tidak bisa meninggalkan masa lalu ku, tapi aku juga tidak terparangkap di dalamnya.
Setiap hari aku duduk di bagian paling depan meski Para Guru tidak menyuruhku, karena ini salah satu cara agar aku bisa menyerap pelajaran. Aku sadar aku berbeda dengan teman sekelasku yang lain, karena perbedaan inilah aku dikucilkan. Tapi aku tidak merasa kerdil dihadapan mereka semua. Sebelumnya aku sempat dimasukan ke salah satu sekolah luar biasa (SLB) di Tangerang oleh orang tuaku agar aku tidak minder dengan teman sekelasku.
Aku merasa asing berbeda saat berada di kelas, bahkan aku terheran-heran dengan kelakuan teman-teman sekelasku. Meraka kerap kali bertingkah lucu di depanku sehingga membuat aku tertawa, mereka semua selalu mencari-cari cara untuk mendapat perhatian dari para guru, sepertinya kata pujian memiliki arti tersendiri.
Ada seorang anak paling besar ukuran tubuhnya, namanya Hendra dia selalu kelaparan tiada henti-hentinya dia mengemil dikelas bahkan tidak jarang dia meminta makanan kepada yang lainnya. Namun dia memintanya dengan sopan jika tidak mendapatkannya dia berlarian-larian di kelas, seakan-akan terasa gempa bumi kecil saat di berlarian dengan tubuhnya yang besar. Terkadang Ibunya selalu menitipkan beberapa bungkus roti atau makanan kecil lainnya ke pada para Guru.
Selain itu ada Hardi tiada hari tanpa ingus yang meler di hidungnya, meski telah dibekali saputangan oleh Ibunya dia selalu menggunakan bagian bawah seragam untuk menyeka hidungnya, sehingga bagian bawah seragamnya selalu nampak kehijau-hijauan.
Dan yang paling cerewet Ani, dia selalu bertanya yang aneh-aneh kepada Aku, bicaranya sangat cepat sehingga aku lebih sering nyengir karena tak mengerti apa maksud dari pertanyaanya. Pernah suatu ketika Ani bertanya kepadaku, “Aku mau makan udang, tapi kemarin aku baru dijajanin permen, kamu pernah ngak makan cumi pake kangkung? “. Karena bicaranya cepat dan ngejelimet, yang kupikir adalah “Aku minta uang , aku bau permen, makan cumi bisa jangkung,” jadinya aku berikan uang Rp. 100 dan bilang kepadanya, “Bukannya minum susu biar jangkung. Dia hanya cengar-cengir, dan berlarian keluar kelas sambil membawa uang dari ku dan berteriak “Anak baru suka sama Ani,”.
Aku menjadi yang paling pintar di kelas, karenanya aku memang normal. Aku mampu menguasai pelajaran dengan baik. Dan akhirnya wali kelas ku Bu Widya menyarankan orang tua ku untuk menyekolahkan Aku di Sekolah umum dan akhirnya Aku dipindahkan ke SD Negeri Karawaci 16.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar