Minggu, 06 Desember 2009

The Story Of My Potrait, Chapter 1

Matahari masih enggan menampakan dirinya. Udara dingin yang ditemani suasana sunyi menandakan gempita liburan akhir pekan selesai dan akan segera dimulai beberapa saat lagi, Sahut menyahut suara Adzan bergema memanggil-manggil. Klik!...Seperti film petualangan yang telah sampai babak akhir, seperti itu juga mimpi dalam lelapku berakhir, semuanya terasa sunyi tanpa suara meski kipas angin di kamar ku deru-menderu. Lalu kutarik nafasku dalam-dalam, hatiku berkata, "Syukurlah Aku masih hidup". Lalu Ku buka mata perlahan, dengan penuh harap akan ada keajaiban disaat kubuka mataku.

Bukan suara adzan atau dering suara alarm yang setiap memulai perjalanan tidur yang membangunkan Aku, Melainkan getaran ponsel yang tepat di sebelah kepalaku. Saat kulihat terdapat 4 Miscall dan sebuah pesan singkat. Pesan singkat tersebut dari sahabat ku Ghamal yang isinya,
Pewasat gw delay 2 jam, berangkat sekitar pukul 09.00 WIB, Tolong jemput sekitar pukul 10.30. Thanks, Ghamal.

Aku hanya tersenyum, dan kemudian aku bergegas Sholat Shubuh. Setelah selesai Sholat aku membuka tirai jendela kamarku. Silauan cahaya matahari pagi yang yang berpadu sorotan lampu motor yang lewat menyilaukan mataku. Aku jadi teringat masa-masa kecilku yang menyedihkan. Saat itu aku jatuh akibat di dorong dan dipukul Rendi salah satu teman SD Ku di SDN Karawaci 16, Kami kalah telak saat bertanding sepak bola dengan SDN Karawaci Baru 3. Rendi menyalahkanku karena Aku tidak mau mengoper bola kepadanya. Padahal aku bermain sebagai pemain belakang. Saat aku terjatuh cahaya matahari menyilaukan mataku sehingga seketika aku tidak bisa menghidar saat Roni Melempar Bola tepat ke Arah wajahku. Bibirku berdarah, Rasanya aku ingin nangis namun percuma tidak akan ada yang mendengar tangisanku. Bahkan Aku sendiri...

Aku biasa dipanggil Azie, sejak umur 3 tahun aku mengalami kelainan pada pendengaran ku. Padahal pada saat lahir aku normal. Namun suatu ketika aku menderita sakit panas setelah sembuh terjadi kelainan pada pendengaranku. Orang tua ku telah mati-matian berusaha menyembuhkan Aku, dari dokter terbaik dalam negeri hingga luar negeri telah mereka datangi untuk berusaha menyembuhkan Aku, Bahkan pengobatan alternatif pun telah dicoba namun hasilnya kurang memuaskan. Tapi Aku bangga dengan mereka, karena mereka tidak lelah-lelahnya berusaha mencari cara agar aku bisa normal seperti yang lainya.

Di sekolah aku selalu menjadi bulan-bulanan, hampir semua teman sekelas SD Ku memanggil Aku dengan sebutan "Si Kuping Polos", meski berulang-ulang kali aku berteriak panggil aku "Azie", namun tetap saja Rendi selalu memprovokasi teman sekelas untuk mengolok-ngolok aku dengan sebuatan "Si Kuping Polos".

-To Be Continued-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar