Hari ini mesti lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini, setiap hari saya mendengar itu saat kelas sekolah dasar dulu. Kiasan itu selalu saya dengar Mulai dari orang tua, kakek, paman bahkan Guru, meski mereka satu kali, dan karenanya mungkin saya telah membuang waktu untuk mendengarkan hal tersebut berkali-kali. Setiap orang pasti punya mimpi, saya masih ingat ketika umur 5 tahun Kakek saya bertanya tentang cita-cita saya, dan mungkin saat itu saya menjawab saya ingin menjadi profesor serba bisa atau Jhon Rambo. Dan 5 tahun kemudian ketika pertanyaan itu muncul lagi, saya menjawab saya ingin menjadi astronot atau pilot yang bisa mengarungi angkasi luas, pasti akan menyenangkan. Dan 5 tahun kemudian jawabannya mungkin akan lebih realistis, yakni sebagai seorang enginer, reporter, atau musisi. Itulah impian, semakin kita dewasa kita semakin realistis dengan keadaan dan kemampuan kita. Dan 5 tahun kemudian yang kita bukan mengejar impian melainkan melakukan kesalahan untuk meraih mimpi tersebut.
Dulu saya merasa diri adalah orang yang gagal, gagal karena selalu mendapat cemohan, gagal mendapat perhatian, bahkan dipandang sebelah mata oleh orang tua sendiri. karena dianggap tidak memiliki tujuan. Sejak kecil selalu menajdi pecundang diantara teman-teman sepermainan saya, selalu dibodohi dan selalu pukuli sudah menjadi sarapan saya. Dan saat itu saya selalu berminpi terdapat keajaiban setelah saya terbangun. Berkali-kali saya berdoa bahwa waktu berputar kembali dan saya bisa memperbaikinya.
Tidak ada kata terlambat yang ada hanya telat, kesempatan akan selalu ada setiap kita saat, tapi kesempatan juga sebuah pilihan yang bisa berbuah kesalahan fatal. Saya pernah mengalaminya. Tadinya saya berfikir itu adalah kesempatan, nyatanya sebuah bencana bagi kehidupan saya, dan saya bersumpah untuk tidak kembali ikut campur dalam urusan itu.
Bumi berputar dan kehidupan saya juga ikut berputar. Saya berharap bisa segera lupa tapi ternyata sulit dan berat, berharap saya amnesia untuk bisa melupakannya. Saya berharap seseorang memukul kepala saya dan saya berharap saya amnesia. Memang terkesan Saya berusaha melarikan diri, dan kenyataannya memang saya sedang berusaha melarikan diri hingga Saya tersadar bahwa bahwa satu2nya jalan keluar dari pelarian Saya adalah dengan kerja keras kemampuan sendiri. Dan Saking kerasnya Saya berusaha hingga badan ini terasa remuk, sakit yang begitu hebat hingga terasa sangat pedih di hati.
Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki kesalahan hanya ada sebuah kata telat saat kita memulai, setiap orang wajar melakukan kesalahan tapi dituntut memperbaikinya. Dan saat ini itu yang saya lakukan.
Tidak ada sebuah mimpi besar saat saya kuliah, saat itu yang saya pikirkan bagaimana lulus cepat, IPK baik, eksis di kampus dan brotherhood. Mindset itu hilang setelah saya lulus kuliah, saat saya tahu bahwa persaingan hidup jauh lebih ketat dari apa yang saya pahami. Tidak salah jika sebagian orang saat ini mengutamakan kuliah semata hanya bertujuan untuk bisa kerja, dan itulah yang hanya saya dapatkan ketika saya kuliah, tidak lebih dan tidak kurang deretan SKS mata kuliah teori tanpa tahu bagaimana cara aplikasinya dan beberapa mata kuliah praktek yang tanggung fokusnya. Dan bagaimana saya mau maju berkembang.
Jalan satu-satunya melawan arus meski akhirnya saya kehilangan teman, jauh dari kata dibilang asik dan fokus terhadap menata masa depan sendiri. Tidak perubahan tanpa ada keberanian dan tidak ada keberhasilan tanpa ada pengorbanan. Waktu mu dan waktu begitu berharga untuk dibuang.
cheers...
Langganan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar