Sabtu, 18 September 2010

Aku kecil tapi Kuat (2)

-Lanjutan Aku kecil tapi Kuat-

Sebelumnya Ibu Syaiful tinggal satu atap dengan Ayahnya dan istri pertamanya, namun karena keseringan berkelahi akibat masalah sepele, Ibu syaiful akhirnya pergi dan tinggal di rumah warisan orang tuanya di kampung Tembilah. Meski tidak besar namun rumah warisan ini cukup layak untuk di tinggali. Untuk sehari-hari Ibu Syaiful bisa berternak ayam dan menjual daging dan telurnya kepasar atau dijual kepada tetangga.
Terkadang Ibu syaiful juga bekerja paruh waktu di perkebunan Gula milik Tuan Harun, Apalagi jika musim penggilingan dan biasanya Anwar pun ikut membantu untuk sekedar mencari jajan tambahan.

Tuan Harun juga punya tanah yang tanami duku, Rambutan dan Durian, biasanya Syaiful sering bermain sekaligus bantu-bantu di perkebunan ini. Biasanya Syaiful dari sekolah langsung langsung main ke kebun milik Tuan Harun. Meski baru duduk di kelas 3 SD, namun Syaiful termasuk anak yang mandiri. Dirinya terbiasa melakukan segalanya sejak kelas 1 SD. Hal ini karena ayahnya mengajarkan hidup itu keras dan sebagai seorang laki-laki harus mampu menjadi tulang punggung keluarga.


Biasanya Bapak Syaiful berkujung ke rumah setiap hari senin atau rabu, setidaknya dalam seminggu akan menginap selamam aatau dua malam. Karena kesibukan Bapak berdagang dan mengurus tanah tidak memungkinkan untuk menginap lama-lama. Semua uang Bapak selalu di pegang dan dikelola oleh istri pertamanya, sehingga bapak hanya bisa memberikan secukupnya kepada Ibu Syaiful, sehingga hampir-hampir Syaiful tidak bisa jajan. Untungnya setiap hasil kebon biasanya Bapak bawa sebagian saat datang berkunjung.

Meski tidak pintar dalam pelajaran sekolah seperti kakaknya Anwar namun syaiful merupakan anak yang tangkas dan cerdas. Badan kecilnya kuat dan staminanya bagus, meski setiap hari harus pulang pergi ke sekolah menempuh kurang-lebih berjarak 20 km dengan jalan kaki, tapi pulangnya syaiful bukannya istirahat melainkan mencari kerjaan sambilan. Namun demikian bukan berarti dirinya mengabaikan sekolah, Sang Kakak Anwar selalu mengontrol setiap membuat PR sekolah dan belajar saat ada ujian.

Beda dengan Syaifu;, Anwar selain pintar di kelas dan meski jarang cari kerja di kebun orang, Anwar lebih membaca dirumah dan bekerja membantu Ibunya. Ayah memang sering membawakan majalah bekas setiap berkunjung berdsarkan pesanan Anwar. Anwar selalu menjadi juara kelas, tidak pernah dirinya keluar dari tiga besar.



-to be continued-

0 komentar:

Poskan Komentar