Senin, 06 September 2010

Aku kecil tapi Kuat

Ketika semua orang sibuk dengan suasana menghiasi rumahnya dengan cat baru, membersihkan rumah dan memasang perabotan baru, bahkan kepala desa Tuan Harun berkeliling kampung seakan-akan melakukan sidak. Di sebuah rumah di ujung belakang kampung, terlihat sepi-sepi saja dalam menyambut Lebaran kali, Anwar duduk-duduk menemani Ibunya yang sedang hamil tua, Mestinya Anwar berada di rumah Ayahnya yang satu lagi untuk bantu-bantu disana dan tugas menunggui Ibunya harusnya di kerjakan Oleh sang Adik Syaiful. Sampai langit mulai kejora seperti ini pun Syaiful belum tampak akan pulang, dan akhirnya Anwar disuruh mencari Syaiful karena habis sudah kesabaran Ibu. "Nuar coba kau tengok adik kau ada dimana, Ibu ni khawatir besok kan sudah Idul Fitri,". Kata Ibu. "Baik Bu," Jawab Anwar sambil bergegas.

Belum sampai pintu Anwar, bunyi tapak larian Syaiful pun datang. Dengan terengah-engah Syaiful buka pintu. "Assalamu alaikum Ka Nuar maaf aku telat, aku dari Bengkelnya Mang Zenal sama Warungnya Koh Liu, tadi aku bantu-bantu disana", ucap Syaiful.

"Ipul-ipul tahu tidak, Ibu khawatir dengan kau baru saja aku mau mencari kamu," kata Anwar dengan geram. "Iya maaf Ka Nuar, ini aku dapat uang Rp. 5000 dan Ketupat sayur dari Mang Zenal serta kue-kue dari Koh Liu." Sahut Syaiful.

"Yasudah cepat sana kau mandi, dan lekas sholat ashar jika belum, segera temani Ibu di, Ingat jangan kemana-mana, Ibu ni sedang Hamil tua. Aku nak ketempat Bapak Sekarang." Kata Anwar.

"Iya kak." Jawab Syaiful sembari menyalami tangan kakaknya dan Bergegas ke Dapur.

"Bu, Syaiful lah Pulang, aku nak berangakat ketempat Bapak sekarang. Takut Bapak Marah menunggu terlalu lama." setengah teriak Anwar dan langsung pergi menutup pintu.

Syaiful merupakan anak kedua dari Istri kedua tuan Ibrahim Baijuri, meski anak dari seorang tuan tanah tapi kehidupan Syaiful berserta kakak dan Ibunya terbilang sederhana bahkan sering kali mereka mengalami kesulitan sehingga kerap berhutang di warung Koh Liu. Hal ini karena Ayah Syaiful tengah mengalami kebangkrutan saat beberapa usahanya Bangkrut setelah menikahi Ibunya. Sehingga sering kali Ibu syaiful disebut pembawa sial oleh Istri Pertama Ayahnya.

Sebelumnya Ibu Syaiful tinggal satu atap dengan Ayahnya dan istri pertamanya, namun karena keseringan berkelahi akibat masalah sepele, Ibu syaiful akhirnya pergi dan tinggal di rumah warisan orang tuanya di kampung Tembilah.


-To Be Continued-

0 komentar:

Poskan Komentar