Semua orang bergerak ya minimal setidaknya dengan bernafas, bernafas pun ada etikanya. Pelan-pelan, tenang dan tidak berisik. Hanya orang mati yang tidak bernafas. Saat kita masih hidup bernafaslah dengan sepuasnya hirup udara segar senyaman-nyamannya. kita tidak tahu kapan udara segar berganti dengan polusi karena sudah menanti diujung penantian.
Batam, tempat studio kami, di pulau ini yang udara masih segar, masih cukup baik untuk mnghirup udara kebebasan yang menenangkan pikiran kalut, semua dari kami berjuang demi banyak hal. Uang, penghormatan dan maupun Nama besar kami perjuangkan lewat dunia Perfilman yang sedang tumbuh saat ini. Dengan kehidupan yang seadaanya kami melawan sebuah batas pemikiran, bahwa diseberang sana ada sebuah tanah harapan yang menunggu kami, surga dunia kreatif. sebuah tanah yang dibangun dengan harapan dan moral beretika oleh para pemimpinnya.
Yang menarik disini semua orang punya banyak kesamaan, emosi labil dan bagai orang dewasa berperilaku anak SD, (termasuk). Semuanya terkadang menajdi orang yang sangat menyenangkan tapi terkadang menjadi menyebalkan. Ada seseorang disini umurnya 30++, setiap ke kantor dandananya trendy, hari-hari penuh warna. Semuanya bertolak belakang sampe kantor kepala maju-mundur sambil ditutup hood jaket, eng...ing...eng...Dia tidur, meski dirinya kerap kali dia sering begitu karena penyakit. Are you sure. Roomatenya bilang hampir tiap hari tidur diatas jam 2 dinihari pagi. Oooh. Untungnya beliau masih masih punya Attitude yang baik pulang berangkat dan pulang tepat waktu.
so far menyenangkan disini, suasana tenang dan pemandangan pantai setiap hari. banyak hal yang dipelajari untuk menajdi pribadi yang sederhana. Tapi tdak banyak juga yang bisa dilakukan disini selain kerja, pulang, games dan porto. Suasana persaingan yang menyenangkan membuat seseorang bersemangat untuk maju kedean menjadi yang terdepan.
-to be continued-
Rabu, 20 April 2011
Jumat, 08 April 2011
The Studios Part 1
Semua orang punya harapan dan cita-cita sendiri dan semua orang ingin menjadi dirinya sendiri, ya meskipun sedikit-sedikit nyontek dan kesuksesan orang lain. Who knows guys lw mau jadi apa nanti tapi yang sekarang mesti kita jalanin terlebih dahulu, suka atau tidak suka inilah hidup ngk ada yang lurus dan ngk semuanya menyenangkan. Terkadang hidup mirip dengan sinetron buatan punjabi group tapi terkadang hidup juga seperti film buatan Hanung Bramantyo.
Gw datang ke sini satu setengah tahun lalu, tanpa bekal apapun. Bahkan dibilang nekat juga ngk, cuman ingin memuaskan hasrat untuk merantau mengikuti jejak Ayah gw. Sepertinya gw cuman segumpal kotoran yang ditengah tumpukan pasir, gw ngk tahu gw ini berguna atau tidak. Cuman naluri untuk mengejar ketertinggalan yang gw punya untuk hidup gw. Gw hidup ini tanpa bakat, sampai-sampai orang tua gw dulu menggangap gw tidak berguna kelak dimasa depan. Tentunya hal wajar, semua orang tua itu seperti itu.
Tanyakan pada 100 pria yang sudah beranak apa yang inginkan dari anaknya. Dengan sotoynya pasti gw akan menajwab pastinya adalh yang terbaik, kesuksesan dan impian sang anak terkabul. Tapi siapa yang tahu memang rezeki setiap insan yang beryawa dimuka bumi ini.
Miliran manusia yang hidup dimuka bumi ini memliki nasibnya sendiri, "bukan salah mu jika kamu terlahir miskin tapi salah mu jika mati dalam keadaan miskin", ya jangan ditelen mentah-mentah, setengah matang aja. Prinsip orang hidup kan beda-beda, arti kaya dan miskin disini pun luas.
Ge datang satu setengah tahun lalu dengan pengharapan gw bisa belajar banyak dan itu tercapai, banyak hal baru yang gw pelajari. Gw belajar dari para masternya disini, bukan dari para pecundang. Jiwa mereka seperti semangat api yang tak padam meski diterpa gelombang laut, hujan badai pun takkan memupuskan harapan mereka. Satu tujuan hidup demi sebuah kebanggaan, demi sebuah penghormatan dan sebuah pengakuan disaat pensiun kelak. Tapi ya realistis juga dengan isi dompet.
Pecundang sejati hanya mereka yang mengingin kan semua sofa empuk dan ruangan dingin tanpa tahu harus berbuat apa, mereka yang hanya tahu dompet mereka tebal meski harus menginjak-injak yang lain.
"Tanah harapan ada diseberang sana karenanya disana tujuan gw, disini cuman rintangan," Ucap Ilham. Di dalam impianya hanya satu kebahagian yakni menjadi bagian semua game yang dimainkan seluruh orang di dunia. "Saat ini gw cuman main Assasin Creed tapi nanti gw yang jadi Assasin, karena gw yang menghidupkan si pembunuh itu untuk para gamer sejati," tambahnya.
Cuman orang Indonesia yang banyak tertinggal, negara lain sudah didukung habis-habisan oleh pemerintahnya cuman disini yang semuanya baru berkembang. Sekedar telat masih bisa gw kejar tapi bukan dengan waktu sesaat, Satu setengah tahun ini hanya untuk sebuah awalan untuk meraih kejayaan.
-to be continue-
Gw datang ke sini satu setengah tahun lalu, tanpa bekal apapun. Bahkan dibilang nekat juga ngk, cuman ingin memuaskan hasrat untuk merantau mengikuti jejak Ayah gw. Sepertinya gw cuman segumpal kotoran yang ditengah tumpukan pasir, gw ngk tahu gw ini berguna atau tidak. Cuman naluri untuk mengejar ketertinggalan yang gw punya untuk hidup gw. Gw hidup ini tanpa bakat, sampai-sampai orang tua gw dulu menggangap gw tidak berguna kelak dimasa depan. Tentunya hal wajar, semua orang tua itu seperti itu.
Tanyakan pada 100 pria yang sudah beranak apa yang inginkan dari anaknya. Dengan sotoynya pasti gw akan menajwab pastinya adalh yang terbaik, kesuksesan dan impian sang anak terkabul. Tapi siapa yang tahu memang rezeki setiap insan yang beryawa dimuka bumi ini.
Miliran manusia yang hidup dimuka bumi ini memliki nasibnya sendiri, "bukan salah mu jika kamu terlahir miskin tapi salah mu jika mati dalam keadaan miskin", ya jangan ditelen mentah-mentah, setengah matang aja. Prinsip orang hidup kan beda-beda, arti kaya dan miskin disini pun luas.
Ge datang satu setengah tahun lalu dengan pengharapan gw bisa belajar banyak dan itu tercapai, banyak hal baru yang gw pelajari. Gw belajar dari para masternya disini, bukan dari para pecundang. Jiwa mereka seperti semangat api yang tak padam meski diterpa gelombang laut, hujan badai pun takkan memupuskan harapan mereka. Satu tujuan hidup demi sebuah kebanggaan, demi sebuah penghormatan dan sebuah pengakuan disaat pensiun kelak. Tapi ya realistis juga dengan isi dompet.
Pecundang sejati hanya mereka yang mengingin kan semua sofa empuk dan ruangan dingin tanpa tahu harus berbuat apa, mereka yang hanya tahu dompet mereka tebal meski harus menginjak-injak yang lain.
"Tanah harapan ada diseberang sana karenanya disana tujuan gw, disini cuman rintangan," Ucap Ilham. Di dalam impianya hanya satu kebahagian yakni menjadi bagian semua game yang dimainkan seluruh orang di dunia. "Saat ini gw cuman main Assasin Creed tapi nanti gw yang jadi Assasin, karena gw yang menghidupkan si pembunuh itu untuk para gamer sejati," tambahnya.
Cuman orang Indonesia yang banyak tertinggal, negara lain sudah didukung habis-habisan oleh pemerintahnya cuman disini yang semuanya baru berkembang. Sekedar telat masih bisa gw kejar tapi bukan dengan waktu sesaat, Satu setengah tahun ini hanya untuk sebuah awalan untuk meraih kejayaan.
-to be continue-
Langganan:
Postingan (Atom)
