Selasa, 03 Januari 2012

Sarjana Muda

Begitu lama dan begitu rindunya untuk menulis setelah hampir 3 tahun terjun bebas ke dunia Animasi, seakan daya kritis ini tumpul dan apalagi mata ini semakin kikuk saat membidik dibalik lubang intip kamera eos 50D...

Sudah hampir lebih dari 3 tahun saya lulus sebagai sarjana sosial, namun masih juga gw belum mampu bebrbuat lebih bahkan untuk makan sehari2 pun harus pas-pasan, dan untungnya gw diberikan kelebihan oleh Tuhan sehingga tidak perlu mengutang kanan-kiri. Di awal 2012 ini gw berharap menjadi tahun titik balik untuk berbuat lebih dari sekedar seorang genu alias ghamal noordiansyah yang biasaanya. keinginang untuk meminang si buat belahan jiwa dan kembali ke bangku kuliah untuk mencicipi rasa pusing dengan rasa materi kuliah dan tantangan untuk melawan rasa kantuk saat dikelas seperti membakar bahan bakar adrenalin gw. Begitu menggebu-gebu dan begitu meluap-luap seakan akan meledak setiap saat.

Beberapa rekan selama SMA dan Kuliah dulu terdengar sudah mentanda tangani surat sehidup-semati dengan pasangannya. Alangkah bahagianya mereka, dan selamat berbahagia serta doa yang terbaik untuk mereka.

Malu hati ini sebagai sarjana tapi hanya bisa duduk sebagai operator meski di kontrak kerja tertulis sebagai artist. Keren kan, karena bukan pemain sinetron saja yang di cap artis.
Bekerja adalah ibadah sehingga apabila kita dengan tulus ikhlas menjalankannya makan Ridho Tuhan selalu bersama kita.

Negara ini butuh lebih dari satu orang yang berfikiran bahwa ibu pertiwi sedang di ujung kehancuaran dan perpecahan. Salahkan siapa Suku Jawa, Suku Tionghona, Suka Papua, Suku Melayu dll. Maaf bukan Penyerangan terhadap ras tertentu. tiap tahu ada lebih ribuan sarjana muda lulus kuliah, dan ujung2nya hanya sedikit dari mereka yang mampu berbuat lebih. persoaaln perut memang menajdi kendala, tapi harusnya tuntutan tersebut membuat seseorang berpikir jauh lebih kerja untuk melampaui puncak dengan cacatan semuanya harus halal dan bersih jauh dari unsur negatif.

Di negeri ini ada ribuan ahli ekonomi baik lulusan swasta maunpun negeri, namun sayangnya ilmu para ahli tersebut yang harusnya digunakan untuk mengatur negara agar menjadi negara yang kaya seperti tidak menjukan hasil. tanya kenapa?..yoh kita tunjuk hidung masing2.

meski ribuan tapi para ahli di negeri ini sedikit sekali dengan para inovator yang jujur dan ngk rakus soal urusan perut. mereka semua lebih senang mengatur tanpa mau untuk diatur, termasuk gw, lw gimana...

tanya salah siapa, ngk ada salah...yang salah kerbau pak slamet yang hobinya ngembik saat laper dan kawin dengan sembarang betina tanpa harus ke penghulu dulu. Tapi para kerbau tersebut masih mau lho berbagi tanpa rewel dengan temannya di sebuah kandang. sedangkan kita buang sampah aja di sembarang tempat, malu ngk sih, cuman saat ke Singapur doang kita jadi manusia lebih beradap, balik ke tanah asal jadi biadab lagi.

Sebuah cacatan yang perlu dibenamkan ke semua kita termasuk gw, belajar untuk konsisten ngk usah perduli dengan kata orang yang salah. setiap ada perselisihan cari solusi bukan salah2an. ya mau ngk mau yang waras ngalah aja.

Saat ini gw di batam, 30 menit dari singapur, tapi nyatanya sedikit hal yang kita tiru dari negara maju tersebut. kenapa ya...apa emang dah dari lahir kita terbiasa untuk bebas. atau nenek moyang kita ngk ngajarin kita untuk teratur, tertib dan disiplin.

Gimana mau jadi inovator yang mampu mengangkat derajat ngeri ini jika untuk buang sampah aja kita masih sembarang, malu sama malaikat yang ngikutin kita terus....

0 komentar:

Poskan Komentar